Tidak terasa sudah hampir lebih dari tiga tahun aku berada di negeri Hitler yang kata banyak orang adalah sesungguhnya tempat penempaan hidup.
Bergulat dengan dinginnya cuaca, karakter orang Jerman yang kadang tidak ramah (bahkan para wanitanya menyebut pria jerman sebagai kebosanan (der deutsche Man langweilig mich, kata seorang wanita cantik Jerman) tapi mampu melahirkan Einstein dan si congkak Karl Marx, Nebenjob (kerja sampingan) yang makin sulit, dan bergulat dengan bahan-bahan berbahasa Jerman yang kadang membutuhkan airmata untuk memahaminya, Tapi itulah hidup. Tidak semua orang seperti Berly yang cerdas dan dengan mudah promoviert (sekolah doktor) dengan segera atau Kiki yang bisa sekolah ke mana-mana. Dan setiap orang punya jalannyaan untuk menempa diri.
Hidup adalah sebuah kumpulan episode dari penderitaan yang pada akhirnya menciptakan sosok dengan karya besar. Karl May kecil hidup sengsara, di rumah yang kotor, dan kekurangan vitamin telah melahirkan karya fantasi yang mengaggumkan. Atau Einstein yang divonis bodoh oleh gurunya telah mengahasilkan teori relativitasnya yang monumental. Ini lah Jerman. Sebuah tempat yang menghasilkan begitu banyak bintang yang cemerlang. Dia bukan lah
Ini adalah Jerman. Sebuah tempat pengasingan yang cocok untuk menempa diri. Sebuah tempat yang mungkin menjadi tempat favorit bagi Sok Hok Gie jika ia masih hidup. Tempat ini tempat yang cocok baginya untuk pengasingan karena ia tidak mau menyerah pada kemunafikan. Di sini ia akan bisa bergulat dengan Karl Marx atau Hitler dengan congkaknya dan keras kepalanya mengatakan kebenaran menurut versinya. Di sini ia akan bisa mencumbu kehidupan Einsten yang masa kecilnya dikebiri karena pikirannya yang mungkin tidak bisa diterima oleh orang-orang lain.
Tapi pengasingan itu bukanlah tanpa hasil. Sok Hok Gie mungkin bisa menjadi Karl Max jilid berikutnya. Ia akan menjadi seperti Mozart, yang akan mampu mengalunkan keindahan dengan cerdasnya. Atau Porsche yang memadukan keindahan dengan kecepatan melalui teknologi adi luhung. Atau orang-orang Bayerisch yang sulit dimengerti dan congkak namun cerdas dan brilyan.
Pengasingan ini adalah episode baru setelah era reformasi 1998 bersama teman-teman FEUI yang telah mengajarkan kita untuk berkata tidak pada kemungkaran dan kemunafikan. Dan reformasi 1998 bersama FEUI adalah sebuah penggal episode yang seharusnya mengajarkan kita bahwa tradisi FE UI adalah tradisi perjuangan melawan kemunafikan dan kemungkaran. Meski itu harus dibayar mahal dan meskipun kita harus terasingkan.
Tulisan ini untuk Berly dan temen-temen di Eropa. Maaf. Kita belum bisa ketemu. Episode pengasingannya belum selesai.
Salam Reformasi dan Tetap Semangat.
Tris Stiadi
Alumni Manajemen FE UIŽ95 dan
Kandidat Master pd MBA in International Business Development