oleh : Teguh Sugiharto, SE
Fakultas Ekonomi tentunya telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk pengembangan perpustakaannya. Ditambah lagi dengan sejumlah bantuan yang cukup besar dan terus-menerus dari berbagai pihak khususnya dari para alumninya yang tergabung dalam organisasi ILUNI FE di samping berbagai perkumpulan alumni yang secara terorganisasi secara formal maupun informal turut serta membantu mengembangkan kualitas pendidikan dan pengajaran di almamaternya. Dari berbagai perbincangan dengan sejumlah mahasiswa ekonomi dari berbagai perguruan tinggi lainnya dan sejumlah kunjungan dapat disimpulkan bahwa perpustakaan FEUI pantas dibanggakan dengan gedungnya yang megah dan koleksinya yang relatif lebih lengkap dan lebih banyak.
Prestasi tersebut memang pantas dibanggakan namun hal ini jangan sampai membuat kita terlena dan merasa cukup dengan kondisi yang memang lebih unggul dibanding yang lain. Dalam sebuah organisasi pembelajaran harus selalu ada upaya secara sadar untuk memperbaiki diri secara kontinyu. Sebuah sistem selalu menyimpan kelemahan di dalam dirinya sendiri. Dan kelemahan ini akan semakin parah jika benchmarking yang diambil hanya dengan perpustakaan sejenis apalagi hanya dalam lingkup domestik. Kita harus ingat bahwa bahkan Malaysia pun dulu pernah berkiblat pada kita dalam pengembangan pendidikan tingginya bahkan sejumlah perguruan tinggi di sana ibaratnya tokoh-tokoh kita juga yang mendirikannya.
Dalam kesempatan ini akan dipaparkan satu kelemahan mendasar yang bisa dilihat dengan mata telanjang khususnya bagi kalangan pecinta buku. Kelemahan ini adalah menyangkut fokus koleksi yang hanya pada penyediaan buku-buku dengan tema keekonomian melulu. Sejauh mata memandang deretan buku di bagian Peminjaman Umum yang tampak hanya buku-buku teks ekonomi semata. Kondisi ini tentunya dalam jangka panjang akan semakin memperparah dilema super spesialisasi di kalangan mahasiswa dan sarjana lulusan FEUI nantinya. Seperti yang pernah dikatakan Prof. Iwan Jaya Aziz (kalau tak salah ingat) bahkan pendidikan di negeri ini telah terjebak dalam spesialisasi dan lebih sempit lagi pada metode yang sangat menekankan pada pendekatan kuantitatif an sic.
Sejauh pengamatan penulis dan juga penulis sendiri banyak buku teks penunjang yang hampir-hampir tak pernah tersentuh tangan mahasiswa. Koleksi buku ini hanya mungkin disentuh jika kebetulan ada tugas makalah yang bisa sedikit menyate dari buku teks yang ada. Kalangan mahasiswa yang hobby membaca sulit menemui koleksi di bidang lainnya apalagi yang bersifat populer, yaitu buku-buku baru terbitan berbagai penerbit dalam negeri. Terpaksalah banyak yang menyalurkan hasrat membacanya dengan membeli sendiri buku dimaksud atau malahan cukup dengan membacanya di toko buku yang tentunya akan menghasilkan sebuah kelelahan tersendiri dalam mengkajinya. Bagaimana tidak lelah jika harus berjam-jam membaca buku sambil berdiri.
Nah, tidakkah ada pihak yang memikirkan untuk turut serta melakukan ekstensifikasi tema-tema buku koleksi perpustakaan dengan berbagai buku bagus yang dapat semakin memperkaya wawasan mahasiswa yang nantinya adalah calon-calon pemimpin bangsa di bidangnya masing-masing. Sehingga mereka diharapkan tidak lagi mengambil keputusan dari sudut pandang keekonomian semata. Sejumlah tema penting yang sehrusnya ada di rak tersendiri meliputi tema-tema: kesusasteraan, sosial politik, dan tak lupa koleksi buku di bidang agama dan filsafat. Novel-novel karya Pramudya Ananta Toer, Dewi Lestari, Ayu Utami, Remy Silado, Umar Kayam dan sebagainya akan meningkatkan pemahaman sosial dan sisi humanisme mahasiswa. Analisis Martin tentang komunitas NU, Geertz tentang masyarakat santri dan abangannya, serta tulisan Eep Saifullah tentang Bangsaku Yang Menyebalkan atau Pak Siswano tentang Wawasan Kebangsaan Indonesia diharapkan dapat memperkaya wawasan kebangsaan dan bekal analisis sosial kemasyarakatan serta pemahaman tentang dunia politik bagi mahasiswa khususnya mereka yang mengakses buku-buku ini.
Dan tidak lupa, karya-karya Nurcholish Madjid yang terkenal dengan slogannya Islam Yes, Partai Islam No, Kang Jalal dengan Psikologi Agama dan Islam Aktual dan Alternatifnya, berbagai buku-buku filsafat terbitan Mizan, dan sebagainya tentu sangat bermanfaat bagi pengembangan wawasan mahasiswa khususnya menyangkut pencarian kebenaran dan makna hidup. Jika pun tidak bisa diharapkan sebuah perubahan yang serius, ekstensifikasi koleksi ini akan memberi sebuah kesegaran baru. Apalagi bagi mereka yang bosan dengan tema-tema keekonomian sebagai sebuah refreshing sebelum harus kembali menatap buku-buku teks yang memang harus dikaji mendalam jika ingin lulus dengan baik karena memang mereka kuliah di perguruan tinggi ekonomi.
Ekstensifikasi tema koleksi perpustakaan ini mengandung banyak manfaat yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu baik yang kasat mata maupun yang kasat meta (baca: metafisika/spiritual). Ekstensifikasi ini tidak bisa diharapkan datang dari Fakultas Ekonomi ataupun ILUNI karena kedua institusi ini memang harus memfokuskan bantuan dan programnya pada pengadaan buku teks keekonomian yang sangat cepat perkembangannya. Tidak lucu jika keduanya harus dibebani hal yang di luar lingkup tugasnya. Program ekstensifikasi ini hanya mungkin terlaksana jika ada alumni atau simpatisan yang tertarik untuk mengadakannya demi pencerahan bangsa. Sebuah rak untuk koleksi khusus dengan nama tertentu mungkin bisa diadakan melalui kerja sama dengan perpustakaan jika ada pihak yang menyuplai pilihan koleksi dengan tema-tema non-keekonomian khususnya tema-tema sosial kemasyarakatan, sospol, kesusasteraan, dan agama serta filsafat. Keren khan kalau di perpustakaan FEUI yang kita cintai semaraknya melebihi toko buku. Melalui program ini kita bisa mengharapkan lahirnya pemimpin bangsa yang berwawasan luas serta mendalam.
Kemang, 2 Nopember 2003
e-mail: ts95id@yahoo.com