Judul di atas akan semakin relevan dan menjadi kenangan dalam waktu beberapa bulan mendatang, ketika Mas Imam pensiun. Sebentar lagi ia berusia enam puluh tahun. “Saya ini pegawai fungsional, Win, pensiunnya usia 60 tahun…. jarang karyawan yang pensiun sampai umur enam puluh, ” kata Mas Imam belum lama ini. Dia ngomong sambil nyengir dan beberapa giginya yang ompong tampak mengintip. Yaah...memang Mas Imam tidak segagah dulu, dua puluh lima tahun yang lalu, ketika penulis masih rutin bolak-balik perpus untuk memimjam buku. Tahun ini, FEUI akan kehilangan lagi karyawan seniornya. Tahun lalu kita melepas beberapa tokoh dan dosen senior, Pak Djun dan Pak Nas, dua orang gagah, tinggi besar, yang ketokohannya di kenal, bahkan di luar FEUI. Tahun-tahun lalu FEUI melepas pensiun Pak Tjas, Pak Koewat dan lain-lainnya.
Kalau mau melihat Mas Imam, tengoklah ia duduk di tempatnya, dekat desk pengembalian buku telat, lantai dasar perpus. Dahulu, di Salemba, Imam muda duduk di lantai dua, dekat tangga lengkung penghubung lantai dua-tiga. Selain penulis, banyak mahasiswa berhubungan dekat, bersahabat dengan para pegawai perpus. Diam-diam para karyawan berdedikasi itu ingat pribadi para mahasiswa satu per satu. Mereka menandai si ini suka jalan sama si itu; atau si ono sudah nggak ”bareng” sama si ntuh. Cukup banyak sahabat Mas Imam yang lain. Penulis hanyalah sahabatnya yang ke sekian dari angkatan yang ke sekian pula... Ada CEO Charoen Pokphan, yang oleh Mas Imam sering keceplosan seenaknya disebut si Kopot (sebutan akrab untuk Pak Rudyan Kopot), atau si Bonar (panggilan buat Hotbonar, Ketua Dewan Asuransi Indonesia). Yaah itulah sahabat tua kami, sahabat kita semua, yang mengenal kita-kita ini sejak masih berjeans dan kaos oblong.
Mungkin ada baiknya penulis sampaikan beberapa catatan dari si orang tua kita itu menjelang pensiunnya. Perpus sekarang ini berbeda dengan dulu...Mahasiswa lebih tega mencoret-coret meja perpus. Padahal, di atas meja itu sudah banyak generasi FEUI yang menjadi canggih, bermula dengan berjalan “tah-ti-tah” menekuni jurnal dan kurva sederhana hingga mampu sambil berlari menyelesaikan persoalan akunting dan ekonomi yang lebih muskil dan rumit. Kini, suara juga lebih bising, karena kegiatan ngobrol dengan suara keras (note : di perpus, standar yang benar adalah berbisik), hingga hentakan musik dangdut dari radio penjaga perpus. Perpus juga cepat sepi...bila sudah mulai jam enam sore...Dahulu, mahasiswa-mahasiswa harus “diusir” pulang kalau sudah jam 21-an.
Zaman berbeda, musim berganti. Kita sekarang di Depok, bukan di Salemba. Ini abad 21 bukan abad 20 lagi... Ada yang berbeda memang...tetapi tetap saja perpus ya perpus...tidak boleh jadi tempat bising, tetapi tempat belajar, dengan teman-teman, termasuk dengan pacar... Terima kasih Mas Imam... Orang memang tidak boleh melupakan dan apalagi kualat pada guru. Anda guru kami juga...
(oleh:Sekjen Iluni FE 2003-2006)