Tahun ajaran perdana bagi mahasiswa baru FEUI telah dimulai. Ritual penyambutan Mahasiswa Baru (maba) pun dilakukan...
Mahasiswa baru FEUI Program D3 dan S1 reguler mulai menjalani ritual penyambutan maba. Kegiatan yang lebih popular dengan sebutan orientasi ini tidak pernah absen tiap tahunnya dalam menyambut Maba.Maba D3 mulai menjalani masa orientasi pada hari Senin (31/8) sedangkan S1 reguler dari hari Rabu sore (1/9).
Jatuhnya korban jiwa menimbulkan pro dan kontra atas kelangsungan kegiatan ini. Sejarah telah mencatat tidak kurang dari 5 orang dari berbagai Universitas telah kehilangan nyawa ketika kegiatan orientasi sedang berlangsung. Dirjen Pendidikan Tinggi (dikti) telah mengeluarkan surat keputusan no.38/Dikti/kep/2000 tentang pelarangan kegiatan penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi. Namun ternyata surat keputusan tersebut tidak terlalu ditanggapi. Dengan berbagai modifikasi nama dan tema, kelangsungan kegiatan orientasi ini terus berlangsung setiap tahunnya.
Namun untuk orientasi tahun 2004 ini sepertinya nuansa orientasi yang angker dan mengerikan agaknya telah diubah. Dengan nama Orientasi Pengenalan Kampus (OPK), tradisi lama yang menonjolkan senioritas agaknya sudah ditinggalkan. “OPK tahun ini adalah OPK yang menghargai mereka karena kualitas mereka (maba-red), kita tidak mencoba untuk membuat mereka terlihat bodoh.” “Kita berusaha untuk memberikan apa yang mereka butuhkan selama kuliah ini. Kita berusaha untuk menanamkan nilai-nilai. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang bebas nilai” kata PO OPK 2004 Haadiy Fatahilah (manajemen 2001).
Pelaksanaan OPK (orientasi-red) di FEUI melibatkan tidak hanya panitia. Dalam hal ini semua organisasi kemahasiswaan memiliki hak untuk melihat pelaksanaan OPK. Mereka tergabung dalam suatu dewan yang disebut dewan independen. Dewan ini berwenang menegur panitia apabila telah terjadi pelanggaran dalam penyelenggaraan OPK.
Selain itu terdapat tidak kurang dari 10 orang seksi kesehatan yang telah latihan berkali-kali, dokter jaga, dan pos kesehatan yang dibuat sekondusif mungkin untuk mengantisipasi apabila terdapat maba yang sakit. Total jumlah panitia dalam pelaksanaan OPK 2004 adalah sekitar 230 orang dari angkatan 2001 – 2003.
Pepatah mengatakan ‘sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh jua”, walaupun segala antisipasi untuk hal-hal yang tidak diinginkan sudah dilakukan, tidak tertutup kemungkinan akan adanya resiko. Mengingat hukuman fisik seperti push –up tetap ada. Masih segar dalam ingatan kita kasus kematian Wahyu Hidayat mahasiswa STPDN atau Cecilia Puji Rahayu mahasiswi baru fakultas peternakan Undip. Kasus Wahyu mungkin wajar terjadi karena ada faktor kekerasan, namun kasus Cecilia lain. Ia meninggal karena tidak kuat dimarahi dan dibentak-bentak.
“OPK ini bukan arena perpeloncoan. Juga bukan arena untuk menunjukkan bahwa saya senior anda junior, (karena itu) anda harus menghormati saya karena saya senior,” kata Haadiy. Kemungkinan besar kegiatan-kegiatan yang bersifat orientasi ini akan selalu ada. Selain untuk membina hubungan antara senior dan maba, apabila dikelola dengan baik, kegiatan orientasi ini banyak sisi positifnya.•
LR/ts